ADSENSE Link Ads 200 x 90
ADSENSE 336 x 280
Bitung: Panjangnya pengurusan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan bagi pemegang kartu BPJS, mendapat sorotan dari Walikota Bitung Max Lomban.
Menurutnya sistem pelayanan terhadap pasien peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan di Kota Bitung terlalu panjang, sehingga bisa ada pasien mati duluan, sebelum mendapat pelayanan medis.
“Saya sedih melihat pasien BPJS terlalu panjang antri di sejumlah loket untuk mengurus administrasi agar dapat pelayanan medis. Kalau dia sedang sakit kong mati, berdosa torang. Kalau dia mati saat sudah dalam perawatan medis, itu walahualam. Tetapi karena dia ba antri, aduh ini berdosa besar torang”, kata Walikota, saat memberikan sambutan pada rapat paripurna istimewa di DPRD Kota Bitung, Selasa sore (25/4-2017).
Karena itu, Walikota memerintahkan kepada Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bitung, untuk merobah dan mempermudah sistem pelayanan kepada para pasien BPJS.
“Saya minta ini ada perhatian. Mulai besok (Rabu -red), ini dirobah”, tegasnya.
Walikota menekankan, pasien harus mendapat penanganan atau pelayanan medis terlebih dulu, baru kemudian mengurus berkas BPJS. Biar para Tenaga Harian Lepas (THL) yang datang ke pasien untuk membantu menyelesaikan administrasi BPJS.
“Jadi saya minta diputar sistem pelayanannya. Jangan dorang (Pasien) antri di BPJS. Jadi begitu mereka diterima, langsung. Dia ada BPJS atou nyanda, itu belakangan. Layani dulu dia. Supaya siapa tahu dengan cuma deng dilayani dia so bae so nyanda perlu macam-macam,” kata Lomban.
Walikota juga memerintahkan untuk menambah mesin fotokopi di RSUD Bitung, agar para pasien BPJS tidak repot untuk menggandakan berkas BPJS.
“Kalu dia mo pigi ba fotokopi depe BPJS, kong sedang saki payah dia, so mati dia. Ndak bisa bagitu (kalau dia mau pergi fotokopi BPJS-nya, lalu sedang sakit berat, sudah mati dia. Tidak bisa begitu). Mereka dilayani dulu kesehatannya, baru administrasinya,” tegasnya.
Menurut Walikota, pelayanan terhadap pasien BPJS di rumah sakit, sangat bertolak belakang dengan pelayanan Mobile Clinic yang malah sudah baik dan lebih maju.
Diketahui, Pemkot Bitung menurunkan 9 tim terpadu yang melakukan pelayanan kesehatan keliling setiap hari. Respon masyarakat terhadap pelayanan Mobile Clinic ini, sangat positif karena sangat membantu.
Tim ini tidak hanya mengobati atau memberikan pelayanan kesehatan, tetapi sekaligus memberikan sosialisasi bagaimana cara mencegah agar terhindar dari penyakit, seperti akibat lingkungan yang kotor.
Sementara itu Direktur RSUD Bitung dr Pitter Lumingkewas mengatakan, segera menindaklanjuti perintah walikota.
“Kalau sekarang boleh dikatakan ada 3 kali antrian yakni antrian di loket untuk ambil data rekam mediknya, antrian di loket BPJS untuk ambil klaim BPJS, kemudian antrian di poli bersangkutan. Kami berencana akan menggabungkan antrian BPJS dan loket rumahsakit untuk mempermudah dan mempercepat pelayanan kepada pasien”, jelasnya.
Tambahnya, instruksi Walikota untuk memberikan pelayanan medis terlebih dahulu kepada pasien, baru kemudian mengurus administrasinya, memang hanya memungkinkan untuk pasien yang baru.
“Pasien lama perlu ke loket data medik untuk ambil data dia, kan perlu namanya siapa, nomornya berapa. Kalau pasien baru ndak ada masalah, tapi kalau pasien lama, karena kan ada uraian penyakitnya di situ. Yang mesti kita pangkas yang di BPJS. Jadi pada saat dari loket medik langsung ke Poli ndak lagi ke BPJS. Berarti BPJS urusan rumaksakit sekarang,” ungkapnya. [rp]
0 Response to "Max Lomban : "Pasien BPJS bisa mati sebelum dilayani antrian terlalu panjang" "
Post a Comment